Rabu, 22 Oktober 2008

Cito!!!!!!!!!

Lagi-lagi Cito berulah ketika di rumah ada acara. Bertepatan ada arisan di rumah, Mbah Ti buat gado-gado. Siang2, ketika suasana sepi, Cito mengaduk sambal kacang (bumbu) gado2 dan sempat memasukkan sedikit beras ke dalamnya. Aksi tersebut, untung cepat diketahui oleh Mak, kalo tidak mungkin bumbunya sudah jadi sambal beras kacang.

Malamnya, ketika acara akan dimulai, Cito tertarik dengan gambar ikan yang timbul di piring. Awalnya, Cito memegang gambar ikan, lama-lama piring yang berisi kacang tersebut dibanting dan pecah berkeping-keping membuat suara keras yang menggagetkan banyak orang.  

Belum cukup itu saja, ketika acara makan dimulai, piring yang berisi sayuran gado2 sudah tertata rapi dan tinggal diberi sambal kacangnya, mbah Ti kaget ketika melihat sambal gado-gado yang berubah bentuk  menjadi encer. Ketika melihat, ada separoh air gelas aqua di samping tempat sambal gado-gado, teriakan kencang memanggil nama "Citoo!!!!!" membahana.

Lebaran, Mudik Oi.

Lebaran kali ini, Cito dah paham kalo mudik, pulang ke Mbah Solo. Cito paham kalo punya dua mbah kakung dan dua mbah ti, mbah Sanusi dan mbah Solo, juga mbah Ti n mbah Ti solo. Cito paham rumah di Solo dan di jalan jeruk. 

Syukurlah, pulang ke Solo Cito gak rewel, baik dalam perjalanan maupun selama tinggal di Solo. Hanya kalo kepanasan, karena AC mobil dimatikan, Cito protes. Selama enam hari di Solo, Cito senang sekali, Cito mainan ma Mas Reihan, Mbak Via, Mas Fuad, Mas Lilik, dan sodara2 lainnya. Di sana, Cito "angon wedus".  Asyik sekali ketika Cito memberi makan kambing, sampe-sampe kambing tetangga ditali di pohon mangga di rumah. Ternyata, kambingnya embek-embek terus, karena anaknya dibawa Cito. Akhirnya Mbah Paina yang punya kambing membujuk Cito agar mau melepaskan kambing kecilnya agar kembali bersama induknya biar gak teriak2. He, he, Cito dijanjikan kalo dah beranak lagi, ntar dikasih satu kambing. (Cito mau Mbah, makasih ya.............).

Selain itu, Cito juga diajak mama n papa liat sawah, sungai, bahkan gunung. Asyik, di gunung Cito malah renang ma papa, padahal gak bawah baju ganti. Akhirnya pulang pake celana basah sama papa. He he he, gak sampe lama karena matahari begitu terik, celana kami pun sudah kering. 

Pas pulang, Cito sedih, karena harus pisah ma sodara yang jarang ketemu (satu tahun sekali ketemunya). Malah, Mbak Via sampe nangis nggak bolehin Cito pulang ke jalan jeruk. Tapi, Cito tetep harus pulang karena Cito kan punya dua mbah kakung. Jadi, bagi-bagi hari lebarannya.