Selasa, 23 September 2008
Selamat Ultah ke-3
Minggu, 07 September 2008
Belajar huruf
Sejak umur 2,5 tahun Cito sudah mulai dikenalkan huruf oleh mama. Bahkan pernah dicobain pake flash card, bahkan sampai ngeprint sendiri dengan kata2 yang dia inginkan. Hasilnya, Cito cepat bisa baca kata2 kertas ukuran folio dengan huruf warna-warni. Hanya saja, ketika tulisan diganti dengan warna yang sama Cito agak bingung ngapalinnya. Apalagi, Cito sudah mulai bosan dengan aktivitas baca-membaca. Akhirnya, mama hentikan.
Dua hari terakhir ini Cito mulai suka lagi liat2 brain questnya. Cito mulai tertarik huruf, baik yang ada di brain quest, majalah hipo, bahkan gambar di kamar. Cito sudah kenal huruf s dan menyebutkan kata yang diawali dengan huruf s sendiri misalnya, superman, semangka, dll. Demikian pula dengan huruf yang lain. Cito mengenal huruf biasanya diasosiakan dengan sesuatu yang akrab dengan dia. seperti dia kenal S, berawal dari logonya superman. Dia mengenal huruf M, berawal dari logonya Macdonald.
Kadang, ada kejadian2 lucu ketika belajar huruf. Sebelum tidur, Cito kadang mengamati poster yang memuat huruf kapital dan kecil dengan satu contoh gambar yang diawali dengan huruf tersebut.
Cito: Ma, itu C cito.
Mama: Iya sayang. Cito pinter. Yang ini apa? (sambil menunjuk huruf j kecil)
Cito: I.
Mama: Ini J. Kalo yang ini baru i.
Cito: Yang ini apa? (sambil menunjuk J kapital di sebelah j kecil)
Mama: Ini J besar, kalo yang satunya j kecil.
Cito: Loh, ini kan panjang, ini gak panjang. (Cito bingung, karena j kecil ternyata lebih panjang dari J kapital).
Mama: (Mama juga bingung jawabnya). Yang ini j kecil, yang satunya J kapital.
Cito: Kapital itu besar.
Mama: Iya. (untuk sementara mama belum bisa jelasin lebih lanjut).
Selain dari poster, cito juga belajar huruf dari Brainquest. Berulangkali dia menyebutkan s untuk kata ular. Mama pikir itu hanya karena salah menyebut kata saja. tetapi ada kejadian menarik dibaliknya.
Cito: s ular.
Mama: Bukan to, s sapi. s sandal.
Cito: s superman.
Mama: Iya betul sekali.
Cito: S semangka.
Mama: Iya. Good.
Cito: S ular.
Mama: Loh, kalau ular itu U ular.
Cito: Di moli s ular.
Oh, God. Mama tahu maksudnya. Moly adalah tikus yang menjadi icon pada brain quest untuk anak usia 3--4 tahun. Di situ memang di tunjukkan ada huruf S dengan gambar ular. Hanya saja, brain quest adalah produk luar, jadi semuanya menggunakan bahasa Inggris.
Mama: Kalo di moli, s snake.
Cito: Snake yang wus wus itu ya ma (sambil meliuk-liukan tangannya seperti ular).
Mama: Iya.
Cito: S semangka. S superman, S snake.
Mama: Iya, good. Cito anak pinter. (rupanya Cito sudah paham mengenai kegelisahannya) .
Subhanallah. Ternyata Allah menciptakan otak anak kurang dari 3 tahun sedemikian hebatnya. Terima kasih ya Allah, Semoga kelak pemikirannya digunakan untuk hal2 yang baik, bermanfaat bagi dirinya, keluarga, bangsa, agama, dan sesamamya.
Akal-akalan Cito
Cito: Mama, keluar dulu.
Mama: Mau kemana?
Cito: Ke papa.
Mama: Tidak.
Cito: Loh, abis itu tidur.
Mama: Tidak. (Lalu Cito menangis).
Oleh karena tidak dihiraukan, tangis Cito dikeraskan. Mama yakin ini hanya akal2an Cito, sehingga tangisan Cito hanya dicuekin mama. Cito masih menangis, bahkan kali ini dengan batuk-batuk. Demi menjaga konsistensi, mama tetep cuek, pura2 gak dengar saja.
Cito: (membatukkan diri). Ma, mau muntah. (Cito punya kebiasaan, kalau menangis keras, makan terlalu kenyang selalu muntah).
Mama: Muntah di perutnya mama saja. Nih. (saat itu sedang terlentang sambil berharap2 cemas).
Cito: Ya wis, Cito bobok.
Lega. Untung Cito keabisan akal, coba kalo muntah beneran??? Nggak kebayang.
Maafin Mama n Papa
Setelah malam itu, mama n papa jadi sadar kalo selama ini membebani. Akhirnya kami berdua bertekat untuk memberikan perhatian lebih, tidak membebani, apalagi menakut-nakuti. sejak saat itu, ancaman "mama akan dibawa raksasa" kami hilangkan. Raksasa sudah pergi, sudah diusir papa dan gak berani mengambil mama. Mama mau menemani Cito di sekolah sampai Cito enjoy dan bisa ditinggal lagi seperti dulu. Cito kami belikan dua kelinci ( si white n si black), mainan dinosaurus, dll tanpa syarat apapun. Yang bikin terharu, setelah dibelikan semua itu, Cito berkata:
Cito: Mama boleh ngaji di Masjid"
Mama: Makasih sayang, kalo Cito masih pengen ditemani, mama tunggu di sekolah ya.
Cito: Iya, mama di luar.
Dengan senyum bahagia (lega) Cito berangsur2 mulai percaya diri lagi. Dia sudah enjoy sekolah, ceria dan aktif lagi. Bahkan semakin banyak dia berceloteh. Satu pesan dari teman2 S2 di UNS yang sudah banyak makan garam tentang pola asuh anak terngiang-ngiang di kepala. "Jangan berharap terlalu banyak pada anak untuk menjadi seperti yang orang tua impikan". Ya, benar sekali. Biarlah dia menjadi dirinya sendiri. Yang ingin kami ajarkan adalah bahwa apapun kelak yang dia putuskan, dia harus mampu dan mau bertanggung jawab, sehingga sebelum bertindak dia sudah paham akan akibatnya dengan menimbang baik-buruknya. Cito, be your self. We love u.
