Pulang dari kerja, mama n papa dapat laporan kalau monitor (monitor model lama 14in yang berbentuk seperti telivisi) dipecahkan Cito. Setelah melihat keadaan monitor (atap monitor lobang besar) mama n papa memanggil Cito.
Mama: 'To, siapa yang membuat monitornya lobang??'
Cito: 'Cito'
Papa: 'Kenapa monitornya jadi gitu?'
Cito: 'Cito mainan sama temen2, karena kakiku tajam pas naik, monitornya bisa jebol, brak gitu (dengan bangga dan ekspresif sekali sambil tangannya memperagakan kehebatannya berhasil menjebolkan monitor dengan kaki tajamnya).
Mama: ' To, kalau Cito naik meja mejanya pecah tidak?'
Cito: 'Tidak'.
Mama: 'Kalau Cito naik piring, piringnya pecah tidak?'
Cito: 'Pecah'
Mama: "Kalau Cito naik handphone, pecah tidak?'
Cito: "Pecah"
Mama: Kalau Cito naik kursi ini, pecah tidak?"
Cito: "Tidak"
Mama: "Nah, monitor pecah itu bukan karena kakinya Cito tajam, tapi karena monitor tidak kuat untuk dinaiki. Piring juga tidak kuat kalau dinaiki kaki. Makanya, Cito harus bisa berpikir, mana yang kalau dinaiki pecah dan yang tidak pecah."
Cito: "Oh, gitu ya."
Mama: "Iya. Sekarang Cito dihukum, tidak boleh beli susu di Dhe Ujet karena uang buat beli susu diapakai buat beli monitor" (sehari, rata2 beli 2 susu cair coklat walaupun di rumah juga ada susu cair).
Cito: "Loh, loh jangan. Nanti kalau aku mecahin monitor lagi saja dihukumnya".
Mama: "Nggak".
Cito: "Kalo aku pingin susu gimana?"
Mama: "Cito kan bisa minum susu kotak yang dirumah".
Cito: "Kan nggak coklat, aku nggak suka"
Mama: "Yang ada dihabiskan dulu, kalau sudah habis nanti kalau beli lagi dibelikan yang coklat. Kalau pengen susu coklat, kan bisa minta yang gelas. Nanti minta dibuatkan mama atau Mbak Ika.
Cito: "Ya wis gitu saja" (dengan berat hati).
Yang jadi pertanyaan mama adalah apakah Cito merasa bersalah atau tidak ketika kenyataannya dia telah merusakkan monitor baik itu disengaja maupun tidak disengaja.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar