Rabu, 25 Februari 2009

Kakiku Tajam

Pulang dari kerja, mama n papa dapat laporan kalau monitor (monitor model lama 14in yang berbentuk seperti telivisi) dipecahkan Cito. Setelah melihat keadaan monitor (atap monitor lobang besar) mama n papa memanggil Cito.
Mama: 'To, siapa yang membuat monitornya lobang??'
Cito: 'Cito'
Papa: 'Kenapa monitornya jadi gitu?'
Cito: 'Cito mainan sama temen2, karena kakiku tajam pas naik, monitornya bisa jebol, brak gitu (dengan bangga dan ekspresif sekali sambil tangannya memperagakan kehebatannya berhasil menjebolkan monitor dengan kaki tajamnya).
Mama: ' To, kalau Cito naik meja mejanya pecah tidak?'
Cito: 'Tidak'.
Mama: 'Kalau Cito naik piring, piringnya pecah tidak?'
Cito: 'Pecah'
Mama: "Kalau Cito naik handphone, pecah tidak?'
Cito: "Pecah"
Mama: Kalau Cito naik kursi ini, pecah tidak?"
Cito: "Tidak"
Mama: "Nah, monitor pecah itu bukan karena kakinya Cito tajam, tapi karena monitor tidak kuat untuk dinaiki. Piring juga tidak kuat kalau dinaiki kaki. Makanya, Cito harus bisa berpikir, mana yang kalau dinaiki pecah dan yang tidak pecah."
Cito: "Oh, gitu ya."
Mama: "Iya. Sekarang Cito dihukum, tidak boleh beli susu di Dhe Ujet karena uang buat beli susu diapakai buat beli monitor" (sehari, rata2 beli 2 susu cair coklat walaupun di rumah juga ada susu cair).
Cito: "Loh, loh jangan. Nanti kalau aku mecahin monitor lagi saja dihukumnya".
Mama: "Nggak".
Cito: "Kalo aku pingin susu gimana?"
Mama: "Cito kan bisa minum susu kotak yang dirumah".
Cito: "Kan nggak coklat, aku nggak suka"
Mama: "Yang ada dihabiskan dulu, kalau sudah habis nanti kalau beli lagi dibelikan yang coklat. Kalau pengen susu coklat, kan bisa minta yang gelas. Nanti minta dibuatkan mama atau Mbak Ika.
Cito: "Ya wis gitu saja" (dengan berat hati).

Yang jadi pertanyaan mama adalah apakah Cito merasa bersalah atau tidak ketika kenyataannya dia telah merusakkan monitor baik itu disengaja maupun tidak disengaja.

Senin, 05 Januari 2009

Ma, adik keluar dari mana??

Hore, Cito mau punya adik baru, tapi adiknya masih di dalam perut (masih lima bulan), jadi belum keluar. Akan tetapi, Cito sayang loh ma adik, Cito sering nyiumin perut mama, ngajak ngobrol adik yang di perut. Nanti kalo adiknya dah keluar, Cito mau menjaganya, ngajak main cap jari. Tadi malam, Cito nanya gimana cara adik ke luar.
Cito: 'Ma, ceritain adik ke luar dari mana'
Mama: 'Loh, kemaren kan sudah'
Cito : 'Lagi', rengeknya
Mama : 'Sekarang sudah malam' (pukul 22.00 WIB)
Cito : 'Adik keluar dari mana?'
Mama : 'Dari bawah perut kan?'
Cito : 'Dekat burung?'
Mama : 'Iya'.
Cito : 'Ada lubangnya?'
Mama : 'Iya'
Cito : 'Besok, kalau mama ganti Cito lihat ya'
Wah, bakalan repot nih kalo beneran pengen lihat, akhirnya mama lihatin perut.
Mama : 'Nih, To (sambil nunjukin garis di perut), di perut mama ini kan ada garis, garisnya
dibuka ma dokter, abis itu adik dikeluarin. Kalau sudah keluar, garisnya dijahit'.
Cito : 'Ditutup?'
Mama : 'Iya, betul sekali. Sudah, sekarang Cito bobok ya'.

Rabu, 26 November 2008

Mimpi Kok Kunci?

Abis ke kamar mandi, Cito bercermin sambil bertanya. "Ma,  kunci itu apa?".

"Ini loh kunci, (sambil menunjuk kunci yang menempel di lemari yang dipakai Cito bercermin)".

 "Loh, di Laskar pelangi kok mimpi adalah kunci (sambil nyanyi lagunya)". 

Terus terang, mama bingung jawabnya. Anak sekecil Cito apa tahu metafora, sementara dijelaskan secara riil juga gak bisa mengena. "Cito tanya papa saja ya?" dalih mama sambil berpikir n sampai saat menulis belum bisa memberi jawaban yang bisa diterima anak kecil.

"Pa, di Laskar pelangi kok mimpi adalah kunci?" tanya Cito penasaran belum bisa menerima penjelasan mimpi sama dengan kunci.

"Cito kan mimpi punya mobil merah, nah biar dapat mobil merah Cito ngumpulkan uang, bekerja, belajar pasti nanti dapat deh mobil merahnya" jawab papanya.

"Iya, kasihan Acis ya nggak punya mobil. Nanti kalau mobil hitamku gak dipakai jalan-jalan dikasihkan Acis ya" lanjut Cito.

"Lah Cito pakai mobil apa?" 

"Kan beli mobil merah".

Yang bikin surprise mama saat ini adalah pertanyaan Cito yang sudah mampu bertanya analisis. Anak yang berumur 3 tahun sudah mampu menganalis lagu. Teruskan sayang, Mama bangga dengan pertanyaan2 kritismu. 

Rabu, 22 Oktober 2008

Cito!!!!!!!!!

Lagi-lagi Cito berulah ketika di rumah ada acara. Bertepatan ada arisan di rumah, Mbah Ti buat gado-gado. Siang2, ketika suasana sepi, Cito mengaduk sambal kacang (bumbu) gado2 dan sempat memasukkan sedikit beras ke dalamnya. Aksi tersebut, untung cepat diketahui oleh Mak, kalo tidak mungkin bumbunya sudah jadi sambal beras kacang.

Malamnya, ketika acara akan dimulai, Cito tertarik dengan gambar ikan yang timbul di piring. Awalnya, Cito memegang gambar ikan, lama-lama piring yang berisi kacang tersebut dibanting dan pecah berkeping-keping membuat suara keras yang menggagetkan banyak orang.  

Belum cukup itu saja, ketika acara makan dimulai, piring yang berisi sayuran gado2 sudah tertata rapi dan tinggal diberi sambal kacangnya, mbah Ti kaget ketika melihat sambal gado-gado yang berubah bentuk  menjadi encer. Ketika melihat, ada separoh air gelas aqua di samping tempat sambal gado-gado, teriakan kencang memanggil nama "Citoo!!!!!" membahana.

Lebaran, Mudik Oi.

Lebaran kali ini, Cito dah paham kalo mudik, pulang ke Mbah Solo. Cito paham kalo punya dua mbah kakung dan dua mbah ti, mbah Sanusi dan mbah Solo, juga mbah Ti n mbah Ti solo. Cito paham rumah di Solo dan di jalan jeruk. 

Syukurlah, pulang ke Solo Cito gak rewel, baik dalam perjalanan maupun selama tinggal di Solo. Hanya kalo kepanasan, karena AC mobil dimatikan, Cito protes. Selama enam hari di Solo, Cito senang sekali, Cito mainan ma Mas Reihan, Mbak Via, Mas Fuad, Mas Lilik, dan sodara2 lainnya. Di sana, Cito "angon wedus".  Asyik sekali ketika Cito memberi makan kambing, sampe-sampe kambing tetangga ditali di pohon mangga di rumah. Ternyata, kambingnya embek-embek terus, karena anaknya dibawa Cito. Akhirnya Mbah Paina yang punya kambing membujuk Cito agar mau melepaskan kambing kecilnya agar kembali bersama induknya biar gak teriak2. He, he, Cito dijanjikan kalo dah beranak lagi, ntar dikasih satu kambing. (Cito mau Mbah, makasih ya.............).

Selain itu, Cito juga diajak mama n papa liat sawah, sungai, bahkan gunung. Asyik, di gunung Cito malah renang ma papa, padahal gak bawah baju ganti. Akhirnya pulang pake celana basah sama papa. He he he, gak sampe lama karena matahari begitu terik, celana kami pun sudah kering. 

Pas pulang, Cito sedih, karena harus pisah ma sodara yang jarang ketemu (satu tahun sekali ketemunya). Malah, Mbak Via sampe nangis nggak bolehin Cito pulang ke jalan jeruk. Tapi, Cito tetep harus pulang karena Cito kan punya dua mbah kakung. Jadi, bagi-bagi hari lebarannya.

Selasa, 23 September 2008

Selamat Ultah ke-3

Cito, met ulang tahun yang ke-3 ya. Semoga jadi anak yang sholeh, baik, nurut, pinter, sehat, dan jujur yang kelak akan dapat berguna bagi bangsa, negara, agama, dan sesama. Satu lagi, panjang umur ya..... Gak terasa, dah tiga tahun Cito sudah menjadi bagian dari kehidupan papa dan mama. Kami semua sayang kamu nak. Kamu adalah harta yang paling berharga yang kita punyai. Kamu mampu menjadi obat ketika mama capek hanya dengan melihat senyum dan celotehmu. Kamu mampu mebangkitkan semangat mama hanya dengan ciuman sayangmu. Kamu adalah makhluk 'terbaik' yang diciptakan Allah untuk kami. Semoga kami dapat menjaga amanah sehingga dapat mendidikmu dengan baik. Dengan penuh cinta kasih, kami hanya ingin kamu tahu, bahwa mama dan papa sangat sayang sama kamu. 

Minggu, 07 September 2008

Belajar huruf

Sejak umur  2,5 tahun Cito sudah mulai dikenalkan huruf oleh mama. Bahkan pernah dicobain pake flash card, bahkan sampai ngeprint sendiri dengan kata2 yang dia inginkan. Hasilnya, Cito cepat bisa baca kata2 kertas ukuran folio dengan huruf warna-warni. Hanya saja, ketika tulisan diganti dengan warna yang sama Cito agak bingung ngapalinnya. Apalagi, Cito sudah mulai bosan dengan aktivitas baca-membaca. Akhirnya, mama hentikan.

Dua hari terakhir ini Cito mulai suka lagi liat2 brain questnya. Cito mulai tertarik huruf, baik yang ada di brain quest, majalah hipo, bahkan gambar di kamar. Cito sudah kenal huruf s dan menyebutkan kata yang diawali dengan huruf s sendiri misalnya, superman, semangka, dll. Demikian pula dengan huruf yang lain. Cito mengenal huruf biasanya diasosiakan dengan sesuatu yang akrab dengan dia. seperti dia kenal S, berawal dari logonya superman. Dia mengenal huruf M, berawal dari logonya Macdonald. 

Kadang, ada kejadian2 lucu ketika belajar huruf. Sebelum tidur, Cito kadang mengamati poster yang memuat huruf kapital dan kecil dengan satu contoh gambar yang diawali dengan huruf tersebut.

Cito: Ma, itu C cito.

Mama: Iya sayang. Cito pinter. Yang ini apa? (sambil menunjuk huruf j kecil)

Cito: I.

Mama: Ini J. Kalo yang ini baru i.

Cito: Yang ini apa? (sambil menunjuk J kapital di sebelah j kecil)

Mama:  Ini J besar, kalo yang satunya j kecil.

Cito: Loh, ini kan panjang, ini gak panjang. (Cito bingung, karena j kecil ternyata lebih panjang dari J kapital).

Mama: (Mama juga bingung jawabnya). Yang ini j kecil, yang satunya J kapital.

Cito: Kapital itu besar.

Mama: Iya. (untuk sementara mama belum bisa jelasin lebih lanjut).

Selain dari poster, cito juga belajar huruf dari Brainquest. Berulangkali dia menyebutkan s untuk kata ular. Mama pikir itu hanya karena salah menyebut kata saja. tetapi ada kejadian menarik dibaliknya.

Cito: s ular.

Mama: Bukan to, s sapi. s sandal.

Cito: s superman.

Mama: Iya betul sekali.

Cito: S semangka. 

Mama: Iya. Good.

Cito: S ular.

Mama: Loh, kalau ular itu U ular.

Cito: Di moli s ular.

Oh, God. Mama tahu maksudnya. Moly adalah tikus yang menjadi icon pada brain quest untuk anak usia 3--4 tahun. Di situ memang di tunjukkan ada huruf S dengan gambar ular. Hanya saja, brain quest adalah produk luar, jadi semuanya menggunakan bahasa Inggris.

Mama: Kalo di moli, s snake.

Cito: Snake yang wus wus itu ya ma (sambil meliuk-liukan tangannya seperti ular).

Mama: Iya.

Cito: S semangka. S superman, S snake.

Mama: Iya, good. Cito anak pinter. (rupanya Cito sudah paham mengenai kegelisahannya) .

Subhanallah. Ternyata Allah menciptakan otak anak kurang dari 3 tahun sedemikian hebatnya. Terima kasih ya Allah, Semoga kelak pemikirannya digunakan untuk hal2 yang baik, bermanfaat bagi dirinya, keluarga, bangsa, agama, dan sesamamya.