Sabtu, 22 Juni 2013
punya burung horee!!!
Sabtu, 01 Januari 2011
Liburanku
Ketika malam tahun baru aku dan teman-temanku makan ikan bakar. Rasanya gurih dan mantap. Ikan dibakar di rumahku dan asapnya membuat mataku perih.
Pukul 12 malam aku meniup terompet. Suaranya keras bercampur suara mercon. Di langit aku melihat mercon yang bagus. Walaupun tidak pergi ke mana-mana, liburanku tetap asyik.
Jumat, 31 Desember 2010
Tahun Baru 2011
Rabu, 25 Februari 2009
Kakiku Tajam
Mama: 'To, siapa yang membuat monitornya lobang??'
Cito: 'Cito'
Papa: 'Kenapa monitornya jadi gitu?'
Cito: 'Cito mainan sama temen2, karena kakiku tajam pas naik, monitornya bisa jebol, brak gitu (dengan bangga dan ekspresif sekali sambil tangannya memperagakan kehebatannya berhasil menjebolkan monitor dengan kaki tajamnya).
Mama: ' To, kalau Cito naik meja mejanya pecah tidak?'
Cito: 'Tidak'.
Mama: 'Kalau Cito naik piring, piringnya pecah tidak?'
Cito: 'Pecah'
Mama: "Kalau Cito naik handphone, pecah tidak?'
Cito: "Pecah"
Mama: Kalau Cito naik kursi ini, pecah tidak?"
Cito: "Tidak"
Mama: "Nah, monitor pecah itu bukan karena kakinya Cito tajam, tapi karena monitor tidak kuat untuk dinaiki. Piring juga tidak kuat kalau dinaiki kaki. Makanya, Cito harus bisa berpikir, mana yang kalau dinaiki pecah dan yang tidak pecah."
Cito: "Oh, gitu ya."
Mama: "Iya. Sekarang Cito dihukum, tidak boleh beli susu di Dhe Ujet karena uang buat beli susu diapakai buat beli monitor" (sehari, rata2 beli 2 susu cair coklat walaupun di rumah juga ada susu cair).
Cito: "Loh, loh jangan. Nanti kalau aku mecahin monitor lagi saja dihukumnya".
Mama: "Nggak".
Cito: "Kalo aku pingin susu gimana?"
Mama: "Cito kan bisa minum susu kotak yang dirumah".
Cito: "Kan nggak coklat, aku nggak suka"
Mama: "Yang ada dihabiskan dulu, kalau sudah habis nanti kalau beli lagi dibelikan yang coklat. Kalau pengen susu coklat, kan bisa minta yang gelas. Nanti minta dibuatkan mama atau Mbak Ika.
Cito: "Ya wis gitu saja" (dengan berat hati).
Yang jadi pertanyaan mama adalah apakah Cito merasa bersalah atau tidak ketika kenyataannya dia telah merusakkan monitor baik itu disengaja maupun tidak disengaja.
Senin, 05 Januari 2009
Ma, adik keluar dari mana??
Cito: 'Ma, ceritain adik ke luar dari mana'
Mama: 'Loh, kemaren kan sudah'
Cito : 'Lagi', rengeknya
Mama : 'Sekarang sudah malam' (pukul 22.00 WIB)
Cito : 'Adik keluar dari mana?'
Mama : 'Dari bawah perut kan?'
Cito : 'Dekat burung?'
Mama : 'Iya'.
Cito : 'Ada lubangnya?'
Mama : 'Iya'
Cito : 'Besok, kalau mama ganti Cito lihat ya'
Wah, bakalan repot nih kalo beneran pengen lihat, akhirnya mama lihatin perut.
Mama : 'Nih, To (sambil nunjukin garis di perut), di perut mama ini kan ada garis, garisnya
dibuka ma dokter, abis itu adik dikeluarin. Kalau sudah keluar, garisnya dijahit'.
Cito : 'Ditutup?'
Mama : 'Iya, betul sekali. Sudah, sekarang Cito bobok ya'.
Rabu, 26 November 2008
Mimpi Kok Kunci?
Abis ke kamar mandi, Cito bercermin sambil bertanya. "Ma, kunci itu apa?".
"Ini loh kunci, (sambil menunjuk kunci yang menempel di lemari yang dipakai Cito bercermin)".
"Loh, di Laskar pelangi kok mimpi adalah kunci (sambil nyanyi lagunya)".
Terus terang, mama bingung jawabnya. Anak sekecil Cito apa tahu metafora, sementara dijelaskan secara riil juga gak bisa mengena. "Cito tanya papa saja ya?" dalih mama sambil berpikir n sampai saat menulis belum bisa memberi jawaban yang bisa diterima anak kecil.
"Pa, di Laskar pelangi kok mimpi adalah kunci?" tanya Cito penasaran belum bisa menerima penjelasan mimpi sama dengan kunci.
"Cito kan mimpi punya mobil merah, nah biar dapat mobil merah Cito ngumpulkan uang, bekerja, belajar pasti nanti dapat deh mobil merahnya" jawab papanya.
"Iya, kasihan Acis ya nggak punya mobil. Nanti kalau mobil hitamku gak dipakai jalan-jalan dikasihkan Acis ya" lanjut Cito.
"Lah Cito pakai mobil apa?"
"Kan beli mobil merah".
Yang bikin surprise mama saat ini adalah pertanyaan Cito yang sudah mampu bertanya analisis. Anak yang berumur 3 tahun sudah mampu menganalis lagu. Teruskan sayang, Mama bangga dengan pertanyaan2 kritismu.
Rabu, 22 Oktober 2008
Cito!!!!!!!!!
Lagi-lagi Cito berulah ketika di rumah ada acara. Bertepatan ada arisan di rumah, Mbah Ti buat gado-gado. Siang2, ketika suasana sepi, Cito mengaduk sambal kacang (bumbu) gado2 dan sempat memasukkan sedikit beras ke dalamnya. Aksi tersebut, untung cepat diketahui oleh Mak, kalo tidak mungkin bumbunya sudah jadi sambal beras kacang.
Malamnya, ketika acara akan dimulai, Cito tertarik dengan gambar ikan yang timbul di piring. Awalnya, Cito memegang gambar ikan, lama-lama piring yang berisi kacang tersebut dibanting dan pecah berkeping-keping membuat suara keras yang menggagetkan banyak orang.
Belum cukup itu saja, ketika acara makan dimulai, piring yang berisi sayuran gado2 sudah tertata rapi dan tinggal diberi sambal kacangnya, mbah Ti kaget ketika melihat sambal gado-gado yang berubah bentuk menjadi encer. Ketika melihat, ada separoh air gelas aqua di samping tempat sambal gado-gado, teriakan kencang memanggil nama "Citoo!!!!!" membahana.
Lebaran, Mudik Oi.
Lebaran kali ini, Cito dah paham kalo mudik, pulang ke Mbah Solo. Cito paham kalo punya dua mbah kakung dan dua mbah ti, mbah Sanusi dan mbah Solo, juga mbah Ti n mbah Ti solo. Cito paham rumah di Solo dan di jalan jeruk.
Syukurlah, pulang ke Solo Cito gak rewel, baik dalam perjalanan maupun selama tinggal di Solo. Hanya kalo kepanasan, karena AC mobil dimatikan, Cito protes. Selama enam hari di Solo, Cito senang sekali, Cito mainan ma Mas Reihan, Mbak Via, Mas Fuad, Mas Lilik, dan sodara2 lainnya. Di sana, Cito "angon wedus". Asyik sekali ketika Cito memberi makan kambing, sampe-sampe kambing tetangga ditali di pohon mangga di rumah. Ternyata, kambingnya embek-embek terus, karena anaknya dibawa Cito. Akhirnya Mbah Paina yang punya kambing membujuk Cito agar mau melepaskan kambing kecilnya agar kembali bersama induknya biar gak teriak2. He, he, Cito dijanjikan kalo dah beranak lagi, ntar dikasih satu kambing. (Cito mau Mbah, makasih ya.............).
Selain itu, Cito juga diajak mama n papa liat sawah, sungai, bahkan gunung. Asyik, di gunung Cito malah renang ma papa, padahal gak bawah baju ganti. Akhirnya pulang pake celana basah sama papa. He he he, gak sampe lama karena matahari begitu terik, celana kami pun sudah kering.
Pas pulang, Cito sedih, karena harus pisah ma sodara yang jarang ketemu (satu tahun sekali ketemunya). Malah, Mbak Via sampe nangis nggak bolehin Cito pulang ke jalan jeruk. Tapi, Cito tetep harus pulang karena Cito kan punya dua mbah kakung. Jadi, bagi-bagi hari lebarannya.
Selasa, 23 September 2008
Selamat Ultah ke-3
Minggu, 07 September 2008
Belajar huruf
Sejak umur 2,5 tahun Cito sudah mulai dikenalkan huruf oleh mama. Bahkan pernah dicobain pake flash card, bahkan sampai ngeprint sendiri dengan kata2 yang dia inginkan. Hasilnya, Cito cepat bisa baca kata2 kertas ukuran folio dengan huruf warna-warni. Hanya saja, ketika tulisan diganti dengan warna yang sama Cito agak bingung ngapalinnya. Apalagi, Cito sudah mulai bosan dengan aktivitas baca-membaca. Akhirnya, mama hentikan.
Dua hari terakhir ini Cito mulai suka lagi liat2 brain questnya. Cito mulai tertarik huruf, baik yang ada di brain quest, majalah hipo, bahkan gambar di kamar. Cito sudah kenal huruf s dan menyebutkan kata yang diawali dengan huruf s sendiri misalnya, superman, semangka, dll. Demikian pula dengan huruf yang lain. Cito mengenal huruf biasanya diasosiakan dengan sesuatu yang akrab dengan dia. seperti dia kenal S, berawal dari logonya superman. Dia mengenal huruf M, berawal dari logonya Macdonald.
Kadang, ada kejadian2 lucu ketika belajar huruf. Sebelum tidur, Cito kadang mengamati poster yang memuat huruf kapital dan kecil dengan satu contoh gambar yang diawali dengan huruf tersebut.
Cito: Ma, itu C cito.
Mama: Iya sayang. Cito pinter. Yang ini apa? (sambil menunjuk huruf j kecil)
Cito: I.
Mama: Ini J. Kalo yang ini baru i.
Cito: Yang ini apa? (sambil menunjuk J kapital di sebelah j kecil)
Mama: Ini J besar, kalo yang satunya j kecil.
Cito: Loh, ini kan panjang, ini gak panjang. (Cito bingung, karena j kecil ternyata lebih panjang dari J kapital).
Mama: (Mama juga bingung jawabnya). Yang ini j kecil, yang satunya J kapital.
Cito: Kapital itu besar.
Mama: Iya. (untuk sementara mama belum bisa jelasin lebih lanjut).
Selain dari poster, cito juga belajar huruf dari Brainquest. Berulangkali dia menyebutkan s untuk kata ular. Mama pikir itu hanya karena salah menyebut kata saja. tetapi ada kejadian menarik dibaliknya.
Cito: s ular.
Mama: Bukan to, s sapi. s sandal.
Cito: s superman.
Mama: Iya betul sekali.
Cito: S semangka.
Mama: Iya. Good.
Cito: S ular.
Mama: Loh, kalau ular itu U ular.
Cito: Di moli s ular.
Oh, God. Mama tahu maksudnya. Moly adalah tikus yang menjadi icon pada brain quest untuk anak usia 3--4 tahun. Di situ memang di tunjukkan ada huruf S dengan gambar ular. Hanya saja, brain quest adalah produk luar, jadi semuanya menggunakan bahasa Inggris.
Mama: Kalo di moli, s snake.
Cito: Snake yang wus wus itu ya ma (sambil meliuk-liukan tangannya seperti ular).
Mama: Iya.
Cito: S semangka. S superman, S snake.
Mama: Iya, good. Cito anak pinter. (rupanya Cito sudah paham mengenai kegelisahannya) .
Subhanallah. Ternyata Allah menciptakan otak anak kurang dari 3 tahun sedemikian hebatnya. Terima kasih ya Allah, Semoga kelak pemikirannya digunakan untuk hal2 yang baik, bermanfaat bagi dirinya, keluarga, bangsa, agama, dan sesamamya.
Akal-akalan Cito
Cito: Mama, keluar dulu.
Mama: Mau kemana?
Cito: Ke papa.
Mama: Tidak.
Cito: Loh, abis itu tidur.
Mama: Tidak. (Lalu Cito menangis).
Oleh karena tidak dihiraukan, tangis Cito dikeraskan. Mama yakin ini hanya akal2an Cito, sehingga tangisan Cito hanya dicuekin mama. Cito masih menangis, bahkan kali ini dengan batuk-batuk. Demi menjaga konsistensi, mama tetep cuek, pura2 gak dengar saja.
Cito: (membatukkan diri). Ma, mau muntah. (Cito punya kebiasaan, kalau menangis keras, makan terlalu kenyang selalu muntah).
Mama: Muntah di perutnya mama saja. Nih. (saat itu sedang terlentang sambil berharap2 cemas).
Cito: Ya wis, Cito bobok.
Lega. Untung Cito keabisan akal, coba kalo muntah beneran??? Nggak kebayang.
Maafin Mama n Papa
Setelah malam itu, mama n papa jadi sadar kalo selama ini membebani. Akhirnya kami berdua bertekat untuk memberikan perhatian lebih, tidak membebani, apalagi menakut-nakuti. sejak saat itu, ancaman "mama akan dibawa raksasa" kami hilangkan. Raksasa sudah pergi, sudah diusir papa dan gak berani mengambil mama. Mama mau menemani Cito di sekolah sampai Cito enjoy dan bisa ditinggal lagi seperti dulu. Cito kami belikan dua kelinci ( si white n si black), mainan dinosaurus, dll tanpa syarat apapun. Yang bikin terharu, setelah dibelikan semua itu, Cito berkata:
Cito: Mama boleh ngaji di Masjid"
Mama: Makasih sayang, kalo Cito masih pengen ditemani, mama tunggu di sekolah ya.
Cito: Iya, mama di luar.
Dengan senyum bahagia (lega) Cito berangsur2 mulai percaya diri lagi. Dia sudah enjoy sekolah, ceria dan aktif lagi. Bahkan semakin banyak dia berceloteh. Satu pesan dari teman2 S2 di UNS yang sudah banyak makan garam tentang pola asuh anak terngiang-ngiang di kepala. "Jangan berharap terlalu banyak pada anak untuk menjadi seperti yang orang tua impikan". Ya, benar sekali. Biarlah dia menjadi dirinya sendiri. Yang ingin kami ajarkan adalah bahwa apapun kelak yang dia putuskan, dia harus mampu dan mau bertanggung jawab, sehingga sebelum bertindak dia sudah paham akan akibatnya dengan menimbang baik-buruknya. Cito, be your self. We love u.
Selasa, 26 Agustus 2008
Cito Gak Mau Ditinggal
Sudah tiga minggu terakhir ini Cito gak mau ditinggal di sekolah. Baru ngaji dapat selembar, Cito sudah menghampiri, malahan dengan menangis. Padahal, ketika pertama kali masuk PG, Cito pede banget. Dua minggu pertama, Cito ok ok saja makanya, mama memutuskan ikutan ngaji di masjid sekolah Cito. Oleh karena gak ada masalah, abis ngaji mama pulang dan Cito juga tidak protes. Akan tetapi, suatu hari Cito nangis mencari mama yang saat itu pulang. Sejak saat itu, Cito gak mau ditinggal di sekolah, malahan mama sampai harus masuk ke dalam kelas buat membujuknya. Sudah berbagai cara dilakukan, mulai bujukan, rayuan, iming2 dibelikan barang kesukaan (tas spiderman, kelinci, sprei spiderman, dll.) bahkan sampai diantar sang papa pun Cito tetep nyariin Mama. Seperti hari ini, mama masih dibuat pusing. Ada apa denganmu Cito????
Mama: Kalau Cito sudah besar, Cito boleh melihara kelinci.
Cito: Mama boleh ngaji.
Mama: Iya, Cito anak pinter.
Oleh karena pengen kelinci, Cito janji mau ditinggal. Nyampe di pintu gerbang sekolah, Cito menunjukkan tanda2 positif mau ditinggal. Cito mau diantar ustadzah ke kelasnya. Akhirnya, mama ikut ngaji di masjid. Baru dapat selembar, Cito sudah menghampiri mama minta dianterin pipis. Mama yakin, hal ini cuma akal-akalan Cito, karena Cito jarang pipis pagi2. Setelah diturutin, ternyata benar kalo Cito pipisnya hanya sedikit. Setelah dibujuk2, akhirnya Cito mau masuk kelas kembali dan mama melanjutkan mengajinya. Tak berapa lama kemudian, lagi-lagi Cito kembali menghampiri mama yang sedang mengaji. Oleh karena sayang ketinggalan mengaji, Cito dibujuk, dirayu bahkan diancam (maafin Mama ya To) biar kembali ke kelas.
Mama: Cito, Cito mau nurut sama mama?
Cito: Iya (mulai menangis)
Mama: Cito kembali ke kelas ya.
Cito: Mama Cito di sana (di kelas) siapa?
Mama: Mama ngaji dulu, kalau sudah selesai sama Cito ya.
Cito: Mama maen sama Cito.
Mama: Cito, kalau gitu mama ikut raksasa saja.
Cito: Loh, mamaku siapa? (menangis dan memeluk mama, minta digendong).
Antara kesal, sayang, sedih bercampur jadi satu. Mama gak tahan untuk tidak menangis. Mama ajak Cito ke kamar mandi tuk membasuh air mata. Setelah itu, mama ajak Cito masuk kelas kembali walopun Mama harus berada di dalam kelas. Ketika waktu bermain di luar, Cito tetep nggak mau berkumpul dengan teman-temannya.
Mama: Cito, Cito maen di sana.
Cito: Cito maen sama Mama
Mama: Cito, maen sama teman-teman Cito.
Cito: Mama nunggu di sana saja (di dekat mainan). Ada duduknya. Juga dingin
Cito, saat itu, kepala Mama pusing sekali. Mama sayang Cito, bahkan sayangggg sekali. Mama hanya pengen Cito enjoy sehingga dapat mengikuti aktivitas sekolah dengan baik. Mama pengen Cito dapat ditinggal seperti kebanyakan teman2 Cito. Cito, be a good boy. I love u, boy.
Kamis, 21 Agustus 2008
I love music
Cito suka musik. Saat ini lagu yang disukai Cito "Racun Dunia". Kalo lagi denger lagu itu, Cito ambil sapu buat gitar n uang logam buat metik gitar sapunya, terus kaki dijinjitin satu. Ketika berada di zona smart music Enfagrow (Sutos, 16 Agustus 2008) yang diambil pertama adalah gitar. Nih, gaya Cito menyanyi n maen gitar.
Minggu, 17 Agustus 2008
17-an
Cito: Ma, piala Cito mana?
Mama: Lupa nggak dibawa ya. Piala Cito di rumah.
Cito: Ayo pulang ngambil piala.
Mama: Bentar lagi ya, abis ini pulang kok.
Senin, 11 Agustus 2008
Maen di Taman Safari Pandaan Jatim
Acis: Aoooo, sakit To.
Cito ma Kaka
Hore!!! Cito minum susu dah gak pake dot lagi....
Cito nunjukin ke Papa di mana sekarang berada.
Burung Unta menghalangi jalan bus
Manjat memang asyk.....
Papa mikirin gimana caranya bawa mobil keluar dengan menghindari tanjakan.
Nggak Sedih Banyak
Seperti biasa, sebelum tidur Cito selalu berceloteh. Entah minta diceritain (minimal 2 buku cerita) kadang malah Cito yang ganti cerita tentang aktivitasnya. saat itulah, saat yang tepat untuk menanyakan sesuatu atau bertukar "konsep dengan Cito".
Mama: To, sudah ya, sekarang bobo. Biar nggak capek kalo pergi.
Cito: Pergi ke mana Ma?
Mama: Sutos (Surabaya town square)
Cita: Sama siapa?
Mama: sama Mama, papa.
Cito: Papa nggak ada.
Mama: Iya, papa masih kerja.
Cito: Aku sedih.
Mama: Kenapa
Cito: Nggak ada papa
Mama: Kalo papa di rumah mama yang kerja gimana?
Cito: Nggak sedih ( Hiks, pengen nangis.......)
Mama: Kalo ada papa sama ada mama?
Cito: Nggak sedih banyak.
Minggu, 10 Agustus 2008
MOS PG Raudlatul Jannah
.jpg)
Naik, naik, ke atas pohon tinggi tinggi sekali
.jpg)
Loncat, asykkk.
.jpg)
Jadi crocodile . jalannya merayap.
.jpg)
Sudah selesai, tolong lepasin Pak. Besok lagi ya.
.jpg)
Naik Kereta api, tut tut. siapa hendak turut.....
.jpg)
Pak, Haus. Minta minum.
.jpg)
Lagi manjat kayak spiderman. Pertama takut, disemangatin Tante Anik jadi berani deh.
Aku sedih
Sabtu, tanggal 9 Agustus 2008 Cito (2 tahun 10 bulan) sedih karena ditinggal papa kerja. Sejak pagi Cito menguntit papanya terus (takut ditinggal). Sudah dijelaskan dan dipamiti tetap gak diizinkan. Siangan, ketika asyk maen dengan mama, Cito ditinggal kerja tanpa pamit. Bangun tidur siang, Cito nangis nyari papa.
Cito: Papa, papa, papa di rumah terus.
Mama: Papa harus kerja To, nyari uang.
Cito: Sudah punya uang. Papa gak usah kerja.
Mama: Uangnya belum cukup buat bayar sekolah, beli makan, beli susu.
Cito: Loh, enggak.
Mama: Nggak pa pa. Papa cuman sebentar kok.
Cito: Nggak. Aku aja yang kerja
Mama: Iya. Nanti, Cito bantu papa kerja ya. Cito sedih ya?
Cito: Iya. aku sedih ditinggal papa. Aku kangen papa.
Mama: Iya, abis ini pulang ya.
Akhirnya, dengan mainan air (membantu menyiram bunga) Cito melupakan kesedihannya ditinggal papa kerja.
Sabtu, 09 Agustus 2008
Infak buat anak yatim piatu
Selasa, 5 Agustus 2005 Cito dapat tugas dari sekolah (PG Raudlatul Jannah) buat ngumpulin infak dari keluarga untuk disumbangkan pada anak kecil yang gak punya mama n papa (salah satunya). Malam-malam, pas ada uang kertas Cito disuruh mama masukin uang ke kotak infak yang terbuat dari kardus susu yang sudah dibungkus rapi dengan kertas coklat oleh ustadzah.
Mama: To, uangnya dimasukin di kotak. Buat teman Cito yang gak punya mama.
Cito: Teman sekolah? siapa?
Mama: Bukan. Anak kecil yang gak punya mama.
Cito: Mamanya kemana?
Mama: Meninggal.
Cito: Dikubur?
Mama: Iya.
Cito: Aku gak mau mama dikubur.
Mama: Semua orang nanti meninggal. Ada yang pas kecil, ada yang sudah besar ada yang sudah tua. kalau yang baik nanti masuk surga. kalo yang yang nggak baik nanti masuk neraka.
Cito: Mama nggak boleh ke surga. nanti dikubur.
Mama: Di surga itu Cito bisa minta apa saja (mainan boleh, susu ada semua ada)
Cito: Spiderman ada?
Mama: Kalo minta ada (agak pusing jawabnya). Cito pengen kemana, surga atau neraka. Kalo neraka panas.
Cito: Surga. (sambil nangis sesengukan). Mama nggak ke surga, nanti meninggal.
Mama: Iya, iya. uangnya dimasukan ya.
Cito: Iya, nanti anak kecilnya tak belikan mama.
